MEMPERKUAT JIWA KEPEMIMPINAN & SPIRITUALISME, PENGURUS AS SHOLCHAH BANAT 1 ZIARAH KE MAKAM SUNAN AMPEL DAN SUNAN BOTO PUTIH
PENGURUS AS SHOLCHAH BANAT 1 ZIARAH KE MAKAM SUNAN AMPEL DAN SUNAN BOTO PUTIH
Warungdowo, 26 September 2026 pengurus pondok pesantren As Sholchah Banat 1 melakukan ziarah sowan ke makam Sunan Ampel dan Sunan Boto Putih Surabaya. Ziarah yang dipimpin oleh Gus Nawawi, SH., tersebut bertujuan untuk bertawasul memohon kepada Alloh agar semua pengurus diberikan kemudahan dan keberkahan dalam berkhidmat menertibkan dan mengatur berbagai kegiatan pondok pesantren.
Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 35 pengurus, berangkat dari pondok jam 7.30 WIB menuju makam Sunan Ampel lalu dilanjutkan ke makam botoh putih. Sebelum pulang rombongan mampir di Tunjungan Plaza Surabaya dan tiba kembali di pondok sekitar jam 18.30 WIB
Sunan Ampel (Raden Rahmat) adalah pemimpin dan guru para Wali Songo. Dakwah Islam beliau di tanah Jawa diperkirakan sudah dimulai sejak tahun 1443. Beliau adalah paman dari Sunan Giri dan ayah dari Sunan Bonang serta Sunan Drajat. Dari pesantrennya di Ampel Denta, Islam menyebar ke seluruh Nusantara. Makam sunan Ampel terletak di Jl. Ampel Masjid No. 53, Ampel, Kec. Semampir, Surabaya. Kompleksnya sudah diresmikan Pemkot Surabaya sebagai Kawasan Wisata Religi Ampel. Makamnya tidak pernah sepi peziarah dari seluruh Indonesia.
Banyak orang yang hanya tahu Sunan Ampel, padahal ada ulama besar lain yang dimakamkan di dekatnya, yaitu Sunan Boto Putih. Nama asli beliau adalah *Pangeran Lanang Dangiran* atau gelar lainnya *Kiai Ageng Brondong*. Beliau adalah pangeran dari Kerajaan Blambangan, putra dari Pangeran Kedawung (Sunan Tawang Alun / Raja Blambangan). Kisahnya sangat unik. Beliau bukan orang sombong karena pangkat bangsawan. Beliau justru meninggalkan istana kerajaan, melarung diri ke laut dan terombang-ambing berbulan-bulan hingga terdampar di Gresik. Di Gresik beliau ditemukan oleh seorang ulama bernama *Kiai Kendil Wesi*.
Melihat kecerdasan dan keikhlasannya, Kiai Kendil Wesi kemudian mendidiknya menjadi guru agama Islam dan mengutusnya untuk berdakwah di Surabaya. Pada tahun *1595*, beliau menetap di seberang timur Kali Pegirian, di sebuah dukuh yang disebut *Boto Putih (Batu Putih)*. Dari sinilah nama Sunan Boto Putih melekat. Wilayah dakwah beliau dari Pegirian sampai Kapasan dan Surabaya Utara. Beliau wafat pada *tahun 1638 M* dalam usia sekitar 70 tahun.
Adapun lokasi makam beliau terletak di Kompleks Makam Sentono Agung Boto Putih, Jl. Pegirian, Surabaya. Luasnya sekitar 4000 meter persegi. Dari Makam Sunan Ampel jalan kaki 5 menit ke arah selatan. Gapuranya besar dengan ornamen keraton karena ini adalah kompleks makam para sunan dan para bangsawan / adipati Surabaya, termasuk makam Bupati Sidoarjo dan makam Sultan Banten terakhir.
Ziarah ke Sunan Ampel adalah ziarah kepada guru besarnya Wali Songo, sedangkan ziarah ke Sunan Boto Putih adalah napak tilas perjuangan seorang bangsawan yang rela meninggalkan tahtanya demi menyebarkan Islam.











